Kamis, 03 November 2011

Impian Pengemis

Ada seorang pengemis yang setiap hari berkeliaran di jalanan. Dia selalu berpikir, betapa senangnya jika di tangannya ada uang sebanyak 2000 dolar.

Pada suatu hari, pengemis ini tanpa sengaja melihat seekor anjing kecil yang lucu sedang tersesat. Pengemis ini melihat ke sekelilingnya. Tidak ada seorang pun! Maka, ia menggendong anjing kecil ini pulang ke gubuknya dan mengikatnya di sana.

Rupanya pemilik anjing itu adalah orang terkaya di kotanya. Sang hartawan menjadi sangat panik karena binatang peliharaan itu adalah anjing ras yang sangat terkenal, yang diimpor dari luar negeri. Lalu hartawan ini membuat pengumuman di seluruh stasiun TV yang ada di kota. Ia mengatakan, siapa yang menemukan anjingnya akan diberi hadiah sebanyak 2000 dolar.

Keesokan harinya, ketika si pengemis ini keluar untuk mengemis, ia mendengar kabar mengenai pengumuman tersebut. Lalu, sambil tergesa-gesa ia pulang ke gubuknya sambil menggendong anjing itu pergi untuk mengambil hadiahnya. Ketika hampir sampai di stasiun TV, dia mendengar kabar bahwa hadiah telah naik menjadi 3000 dolar. Rupanya, karena hartawan ini tidak dapat menemukan anjingnya dengan segera, ia menelepon ke stasiun TV untuk menambahkan hadiahnya.

Pengemis ini hampir tidak percaya dengan pendengarannya. Langkah kakinya tiba-tiba berhenti. Setelah berpikir kembali, akhirnya dia membawa anjing itu kembali ke gubuknya. Setelah hari ketiga, benar saja hadiahnya bertambah lagi! Dan pada hari keempat, hadiah bertambah lagi.

Setelah hari yang ketujuh, jumlah hadiahnya sudah sangat besar dan menggagetkan seluruh penduduk kota. Nah pada saat ini, si pengemis lari pulang ke gubuknya, untuk mengambil anjing ini. Akan tetapi, di luar dugaannya, anjing yang diikatnya sudah mati karena ia tidak punya cukup perhatian dan makanan untuk merawatnya. Si pengemis pun gagal mendapat hadiah dan ia tetap menjadi pengemis.


Ayo Qt renungkan:
Sebenarnya di dalam kehidupan kita ini, banyak barang bagus bukan karena kita tidak berjodoh mendapatkannya, tetapi harapan kita terlalu tinggi. Ketika kita sudah hampir mendekati sebuah target, terkadang kita mengubah arah mendekati target yang lebih tinggi.

Ada seorang ahli filsafat dari negeri Barat mengatakan, “Harapan manusia bagaikan sebuah gunung berapi, jika tidak dapat mengontrolnya akan melukai diri sendiri.”


[disadur dari berbagai sumber]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar