Rabu, 26 Januari 2011

Melatih Sikap Positif

Sikap positif, perasaan positif, 'senses', rasa dan sikap kita sebenarnya adalah sesuatu yang bisa dilatih. Sesuatu hal seperti kemampuan olah raga kita: golf, badminton, tenis dan lainnya. Semuanya bisa kita dapatkan dengan sering berlatih. Karena semua hal dalam kehidupan sebenarnya bisa dilatih dan dijadikan kebiasaan kita.

Jadi seharusnya kita mampu mengurangi bahkan menghilangkan perasaan dan sikap yang negatif dalam kehidupan kita. Seperti perasaan merasa kurang beruntung, nervous, perasaan takut ditolak waktu menawarkan penjualan barang, misal. Juga sikap yang suka menunda pekerjaan, "Besok saja deh, atau besok lusa saja kan masih bisa" atau perasaan ragu-ragu, "Saya kerjakan apa tidak ya, saya kerjakan apa tidak ya...". Dan perasaan inferior tidak mampu, "Wah celaka, saya bakal tidak bisa mengerjakan ini". Serta perasaan-perasaan negatif lainnya.

Memang sekali-kali dalam kondisi tertentu, perasaan tersebut tetap kita butuhkan. Tetapi umumnya perasaan-perasaan negatif tersebut hanyalah menjadi kerugian bagi kita. Sehingga kita harus mengurangi atau menghilangkannya dalam kehidupan kita. Dan digantikan oleh perasaan-perasaan yang positif misalkan: keberanian, optimis bisa, " Ayo-ayo! Yes! Kita bisa lakukan dan selesai malam ini". Atau "Harus menang, harus berani, pasti bisa kita lakukan", "Hari ini hari yang cerah, hari yang penuh semangat, saya pasti berhasil". Atau adanya perasaan bahwa kita hidup penuh dengan dinaungi keberuntungan.

Semua itu adalah perasaan yang positif. Perasaan tersebut haruslah kita bina. Karenanya untuk mendapatkannya, kita harus melatihnya. Untuk itu kadang kita membiasakan diri kita sedikit demi sedikit. Misalkan secara sadar setiap malam atau setiap pagi sesaat setelah bangun, melakukan kebiasaan menulis 'sikap yang positif apa yang akan dilakukan hari ini'. Tak perlu detil dan panjang, ringkas saja cukup 5 menit melakukannya. Atau menulis 'apa yang membuat saya bahagia nanti malam atau besok pagi', bisa pula menulis 'hal-hal apa yang menguntungkan dalam perjalanan kehidupan saya'.Lalu lakukan apa yang akan membuat anda merasa positip itu dalam kehidupan anda.

Nah, kalau kita bisa membina sikap-sikap positif ini dan menjadikan kebiasaan maka niscaya akan menjadi lebih dekat lagi dengan kesuksesan kita sendiri.

Bosan

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"

Pak Tua :
"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."

Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"
Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua :
"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu :"Contohnya? "

Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu :

"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata:

"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."

Orang Sukses dan Nelayan

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang masih asri. Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari villa tempat dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Terlihat Di sebuah dinding karang seseorang sedang memancing, dia menghampiri sambil menyapa,

"Sedang memancing ya pak?", sambil menoleh si nelayan menjawab,

"Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami".

"Kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan banyak ikan di laut ini, kalau bapak mau sedikit lebih lama duduk disini, tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?"

Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai orang malas. "Apa gunanya buat saya ?" tanya si nelayan keheranan.

"Satu-dua ekor disantap keluarga bapak, sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing lagi sehingga hasil pancingan bapak bisa lebih banyak lagi" katanya menggurui.

"Apa gunanya bagi saya?" tanya si nelayan semakin keheranan.

"Begini. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, bapak bisa membeli jala. Bila hasil tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih banyak, bapak bisa saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari bapak akan menjadi seorang nelayan yang kaya raya".

Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali. Sungguh tidak masuk diakal ide yang ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan, "Kalau bapak mengikuti saran saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apa pun yang bapak mau".

"Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?" tanya si nelayan.

"Bapak bisa melakukan hal yg sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa berlibur, mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil memancing".

"Lho, bukan hal itu yang setiap hari saya lakukan tuan, kenapa harus menunggu berlibur baru memancing?", kata si nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.

Sahabat...
Ada Pepatah mengatakan, "jangan mengukur baju dengan badan orang lain" Maksudnya..Si pedagang mungkin benar melalui analisa bisnisnya, dia merasa apa yang dilakukan oleh si nelayan terlalu sederhana, monoton dan tidak bermanfaat. Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apapun yang diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani setiap hari dengan rasa syukur dan berbahagia.

Memang ukuran "bahagia", masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali kepada keikhlasan dan cara kita mensyukuri, apapun yang kita miliki saat ini..
nikmatilah hidup ini dengan rasa syukur dan keimanan yang membaja, karena hidup adalah perubahan menuju sukses..Dasyat..Luar biasa..