Sabtu, 21 April 2012

INOVASI BISNIS

1. Definisi Inovasi 
Bisnis Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, barang baru, pelayanan baru dan cara-cara baru yang lebih bermanfaat. Amabile et al. (1996). Kata kunci lainnya dalam pengertian inovasi adalah baru. Santoso S. Hamijoyo dalam Cece Wijaya dkk (1992 : 6) menjabarkan bahwa kata baru diartikan sebagai apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima pembaharuan, meskipun mungkin bukan baru lagi bagi orang lain. Akan tetapi, yang lebih penting dari sifatnya yang baru adalah sifat kualitatif yang berbeda dari sebelumnya. Kualitatif berarti bahwa inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali dalam bidang yang mendapat inovasi. 
Inovasi dapat menjadi positif atau negatif. Inovasi positif didefinisikan sebagai proses membuat perubahan terhadap sesuatu yang telah mapan dengan memperkenalkan sesuatu yang baru yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Inovasi negatif menyebabkan pelanggan enggan untuk memakai produk tersebut karena tidak memiliki nilai tambah, merusak cita rasa dan kepercayaan pelanggan hilang. 
Menurut Joseph Schumpeter definisi inovasi dalam ekonomi,1934: Mengenalkan barang baru dimana para pelanggan belum mengenalnya atau kualitas baru dari sebuah barang: 

  • Mengenalkan metoda produksi baru yang dibutuhkan, ditemukan melalui serangkaian uji coba ilmiah; 
  • Membuka pasar baru, dimana perusahaan sejenis tidak memasukinya, baik pasar tersebut ada atau belum ada ketika perusahaan memasukinya; 
  • Menguasai sumber bahan baku baru untuk industri barang; 
  • Menjalankan organisasi baru, seperti menciptakan monopoli, atau membuka monopoli perusahaan lain. 
2. Tipe Inovasi

Ada 5 tipe inovasi menurut para ahli, yaitu:

  • a. Inovasi produk; yang melibatkan pengenalan barang baru, pelayanan baru yang secara substansial meningkat. Melibatkan peningkatan karakteristik fungsi juga, kemampuan teknisi, mudah menggunakannya. Contohnya: telepon genggam, komputer, kendaraan bermotor, dsb;
  • Inovasi proses; melibatkan implementasi peningkatan kualitas produk yang baru atau pengiriman barangnya; 
  • Inovasi pemasaran; mengembangkan metoda mencari pangsa pasar baru dengan meningkatkan kualitas desain, pengemasan, promosi;
  • Inovasi organisasi; kreasi organisasi baru, praktek bisnis, cara menjalankan organisasi atau perilaku berorganisasi; 
  • Inovasi model bisnis; mengubah cara berbisnis berdasarkan nilai yang dianut. 
3. Sumber Inovasi 

Terdapat dua sumber utama inovasi , yaitu:

  • Secara tradisional, sumbernya adalah inovasi fabrikasi. Hal tersebut karena agen (orang atau bisnis) berinovasi untuk menjual hasil inovasinya. 
  • Inovasi pengguna; hal tersebut dimana agen (orang atau bisnis) mengembangkan inovasi sendiri (pribadi atau di rumahnya sendiri), hal itu dilakukan karena produk yang dipakainya tidak memenuhi apa yang dibutuhkannya. 
4. Tujuan Inovasi 

Tujuan utama inovasi adalah: 

  • Meningkatkan Kualitas; 
  • Menciptakan Pasar Baru; 
  • Memperluas Jangkauan Produk; 
  • Mengurangi Biaya Tenaga Kerja 
  • Meningkatkan Proses Produksi; 
  • Mengurangi Bahan Baku; 
  • Mengurangi Kerusakan Lingkungan; 
  • Mengganti Produk Atau Pelayanan; 
  • Mengurangi Konsumsi Energi; 
  • Menyesuaikan Diri Dengan Undang-Undang;
5. Kegagalan Inovasi 

Hasil survey menunjukkan, bahwa dari 3000 ide tentang sebuah produk, hanya satu yang sukses di pasaran. Kegagalan inovasi mengakibatkan hilangnya sejumlah nilai investasi, menurunkan moral pekerja, meningkatkan sikap sinis, atau penolakan produk serupa dimaa datang. Padahal produk yang gagal seringkali memiliki potensis ebagai ide yang baik, penolakan terjadi karena kurangnya modal, keahlian yang kurang, atau produk tidak sesuai kebutuhan pasar. Kegagalan harus diidentifikasi dan diselesksi ketika proses berlangsung. Penyeleksian dini memungkinkan kita dapat menghindari uji coba ide yang tidak cocok dengan bahan baku, sehingga dapat menghemat biaya produksi. 
Penyebab umum gagalnya suatu proses inovasi, dapat disaring kedalam 5 macam, yaitu: 

  • Definisi tujuan yang buruk
  • Buruknya mensejajarkan aksi untuk mencapai tujuan; 
  • Buruknya partisipasi anggota tim; 
  • Buruknya pengawasan produk; 
  • Buruknya komunikasi dan akses informasi.
6. Siklus Inovasi 

Siklus inovasi berlangsung seperti kurva difusi dimana pada tahap awal, tumbuh relatif lambat, ketika kemudian pelanggan merespon produk tersebut sebagai sebuah kebutuhan maka pertumbuhan produk meningkat secara eksponensial. Pertumbuhan produk akan terus meningkat bila dilakukan inkrenetori inovasi atau mengubah produk. Di akhir kurva pergerakannya melambat kembali dan cenderung menurun.
Gambar  Siklus Inovasi 
Perusahaan yang inovatif akan bekerja dengan cara inovasi baru, yang menggantikan cara lama untuk mempertahankan tumbuhnya kurva melalui pembaharuan teknologi, bila teknologi tidak dilakukan pembaharuan pertumbuhan akan cenderung stagnan atau bahkan menurun.

Kamis, 19 April 2012

5S

2.1. Defenisi 5S
5S adalah teknik didalam penataan sisitem kerja yang berprinsip pada konsep perapihan, peyusunan, pembersihan, dan pemeliharaan. Bila hai ini diupayakan mejadi suatu kebiasaan, maka akan menjadi 5S. 5S ini merupakan implementasi dari kaizen yang digunakan peruahaan-perusahaan jepang. Lima langkah ini dalam bahasa jepang sering disebut dengan seiri,seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke.
Istilah-istilah lain 5S yaitu:
5S juga merupakan budaya tentang bagaimana seorang memperlakukan tempat kerjanya secara benar sehingga dapat diciptakan kemudahan bekerja.
Tujuan 5S selain untuk menciptakan semangat untuk mematuhi seluruh aturan yang ditetapkan, bertujuan juga:
1. Efisiensi kerja (Optimalisasi sumber daya)
2. Produktivikasi kerja (Peningkatan nilai tambah pada hasil kerja)
3. Kualitas kerja (Kesesuaian hasil kerja terhadap kebutuhan)
4. Keselamatan kerja (Pekerjaan dapat dilakukan secara aman dan selamat)
5. Kenyamanan Kerja
Selain itu 5S berupaya mencapai target akhir yaitu:
1. Meningkatkan standar pengawasan (kontrol).
2. Meningkatkan karakter dan martabat perusahaan dan pegawainya.
3. Menghadirkan sistim organisasi yang aktif.
2.2. 5S Sebagai Dasar Penyempurnaan
2.2.1. Seiri
Seiri (Pemilahan) dapat didefinisikan:
1. Memisahkan barang secara jelas ke dalam kelompok yang tidak perlu
2. Membuang yang tidak perlu dan menyimpan yang perlu sesuai dengan tingkat kepentingannya dan frekuensi penggunaannya
Dengan pemilahan (seiri), kita dapat terbebas dari dokumen dan barang-barang yang tidak diperlukan. Seangkan barang yang diperlukan tersimpan dalam kelompok-kelompok yang sesuai dengan tingkat kepentingannya sehingga bila dibutuhkan, dokumen dan barang-barang tersebut dapat ditemukan dengan mudah dan cepat.
Beberapa Manfaat Pemilahan:
1. Ruang dapat dimanfaatkan secara lebih efektif
2. Mencegah barang-barang dari resiko keusangan dan kerusakan
3. Mempersingkat waktu dalam mencari barang yang diperlukan
4. Menurunkan jumlah persediaan
5. Menurunkan waktu pemeliharaan
Jadi pemilahan dapat menurunkan biaya produksi, meningkatkan efisiensi, meningkatkan produktivitas sertakeselamatan kerja lebih terjamin.
Dalam melakukan pemilahan perlu diambil Keputusan yang mantap, antara lain:
1. Apa yang akan dipilah
2. Mengapa pemilahan perlu dilakukan
3. Dimana pemilahan akan dilakukan dan dimana
barang-barang hasil pemilahan akan disimpan
4. Bagaimana pemilahan akan dilakukan. Tetapkan
metode yang akan digunakan
5. Kapan pemilahan akan dilakukan.
6. Siapa yang melakukan pemilahan.

Untuk mengambil suatu keputusan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Alat kerja. Alat periksa dan alat ukur yang diperlukan dan tidak diperlukan dalam pekerjaan dipisahkan.
2. Alat kerja dan alat periksa yang untuk sementara waktu tidak digunakan disimpan pada tempat yang terpisah
3. Barang-barang didepan alat pemadam kebakaran, panel box dan barang perawatan lainnya dipisahkan
4. Lokasi kerja dan jalan dibedakan
Suatu cara untuk mengidentifikasi barang tidak perlu atau berada ditempat yang salah yaitu:
1. Membuat peraturan
2. Identifikasi barang tak perlu dan salah tempat
3. Tempel red tags
4. Pindahkan ke holding area
5. Keluarkan barang yang tidak perlu
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pemilahan yaitu:
1. Penempatan hasil produksi. Bahan suku cadang dan peralatan lainnya dipisahkan.
2. Dokumen dan kertas kerja dipisahkan sedemikian rupa agar langsung dapat ditentukan hanya dengan melihat saja.
3. Tidak membiarkan barang yang tidak perlu di dalam lokasi pekerjaan
4. Pisahkan antara jenis-jenis sampah dan kotoran
5. Tidak ada barang yang tidak berguna diatas meja kerja ataupun lemari
Langkah –langkah pemilahan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Tetapkan apa yang akan dipilah
2. Pisahkan mana yang:
(a) perlu
(b) tidak perlu
3. Buang yang tidak perlu
4. Kelompokkan yang perlu ke dalam katagori:
(a) tidak penting
(b) berlebih
(c) Digunakan sehari-hari
5. Simpan yang tidak penting dan berlebih secara terpisah
6. Tetapkan bagaimana menangani barang-barang yang tidak penting dan berlebih
7. Kelompokkan barang-barang yang digunakan sehari-hari menurut:
a) Tujuan
b) Fungsi
c) jenisnya
8. Tempatkan barang-barang yang digunakan sehari-hari dalam rak pemilahan menurut pengelompokkannya
9. Sesuaikan penempatan rak jika jumlah barang-barang berkurang atau bertambah
10. Tuliskan kembali daftar pengelompokkan barang atau hapuskan sesuai keperluan
11. Tuliskan kembali identitas rak atau hapuskan sesuai keperluan
12. Tuliskan kembali nomor-nomor barang atau hanya memberi tanda pada barang-barang baru
2.2.2. Seiton
Seiton-Rapih- Penataan adalah Merapihkan atau menata barang-barang yang telah diringkasi sedemikian rupa, sehingga barang yang diperlukan mudah diambil dan dikembalikan pada tempatnya. Dengan penataan (seiton). Sarana-saranA kerja ditempatkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan cepat dan benar, Serta ketentuan-ketentuan SQP (Safety=Keselamatan; Quality = Kualitas; Productivity = Produktivitas) dapat terpenuhi.
Manfaat dari penataan yaitu Ditempat kerja, pemilahan perlu mendapat perhatian serius karena memiliki manfaat besar dan jelas. Sebaliknya, penataan sering terabaikan, karena dianggap kurang memberi manfaat besar. Dengan terabaikannya kegiatan penataan maka hasil akan menjadi kurang maksimal.
Sebagai contoh dalam persiapan membuat kue, bahan-bahan yang diperlukan sudah dipersiapkan, demikian pula peralatan memasaknya. Dengan penataan yang baik di dekat tempat memasak, maka apabila diperlukan. Kita tahu persis dimana diletakkan dan mudah menjangkaunya. Untuk aktivitas yang lebih kompleks, seperti yang dilakukan di pabrik, penataan menjadi bagian penting karena dapat meningkatkan waktu produktif dengan menurunkan waktu persiapan penyetelan peralatan, menekan cacat, kerusakan, kecelakaan, serta polusi
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses penataan antaralain:
1. Alat kerja, alat periksa dan ukur yang diperlukan diatur dan ditempatkan secara terpisah sehingga mudah terjangkau.
2. Tidak menaruh barang pada tempat yang dapat mengganggu pekerjaan.
3. Cara menaruh dan menyusun bahan dan suku cadang lainnya harus aman.
4. Alat kerja dan alat periksa selalu teratur. Tidak menaruh yang rusak maupun yang jelek.
5. Tidak menaruh barang yang berbahaya selain pada tempat yang telah ditentukan.
6. Setelah digunakan alat pembersih disimpan pada tempat yang telah ditentukan.
7. Dokumen dan kertas kerja diatur sedemikian rupa agar langsung dicari dengan mudah.
8. Petunjuk jalan yang penting dan tempat penyimpanan barang harus tertera jelas.
9. Tempat meletakkan bahan, barang produksi, kotak kosong dan kereta dorong terlihat jelas.
10. Papan pengumuman terletak pada tempat yang mudah dilihat.
11. Para penanggung jawab pada waktu akan menggunakan alat pemadam kebakaran dan hydrant harus diberi tanda pengenal agar mudah dikeluarkan setiap saat untuk melaksanakan tugasnya.
12. Tidak meletakkan barang-barang dijalanan yang dapat mengganggu fungsi jalan tersebut.
13. Identitas barang harus jelas.
Adapun langkah-langkah dalam proses penataan antaralain:
1. Melakukan persiapan di luar waktu operasi yang sesungguhnya
2. Mengelompokkan peralatan peralatan yang dibutuhkan untuk satu kegiatan dalam satu perangkat
3. Menerapkan operasi paralel dimana sekelompok karyawan melakukan kegiatan penyiapan secara serempak.
4. Mengubah sistem pembagian tugas supaya lebih merata dan mengatasi kemungkinan bottleneck (pekerjaan terhambat karena adanya penumpukkan di dsatu orang atau unit kerja).
5. Teliti kembali seluruh kegiatan untuk menggali peluang meringkas menggabungkan mengubah urutan, serta menyederhanakan proses.
2.2.3. Seiso
Seiso-pembersihan-resik adalah kegiatan menghilangkan sampah, kotoran, dan benda asing. Kegiatan pembersihan tidak harus dilakukan setelah seiri dan seiton) sebelumnya karena sebelum, selama, dan sesudah kedua kegiatan tersebut, pembersihan dapat dilakukan.
Dengan pembersihan (Seiso), barang, alat, dan tempat kerja dibersihkan dari sampah kotoran. Selain itu, pembersihan juga berfungsi menunjukkan kerusakan-kerusakan yang ditemukan ketika barang, alat dan tempat kerja dibersihkan. Sehingga kegiatan pembersihan dapat dipandang sebagai kegiatan inspeksi secara terus-menerus. Dengan pembersihan, fasilitas kerja menjadi bersih (dari kotoran) dan handal (hanya mengandung sedikit kerusakan).
Bila pembersihan dilakukan dengan benar, selalu ada manfaat yang dapat diperoleh.
Sebagai contoh pembersihan fasilitas mekanis, berarti kegiatan membersihkan fasilitas dari sampah dan kotoran, memeriksa dan menyentuh fasilitas tersebut dari atas sampai bawah sehingga kerusakan-kerusakan tersembunyi dan kecil seperti kendor, bocor, suara-suara tidak normal, dan sebagainya, dapat segera dideteksidan diperbaiki sebelum kerusakan tersebut menjadi parah.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pembersihan yaitu:
1. Semua tempat di Lokasi kerja harus terjangkau untuk dibersihkan.
2. Alat kebersihan yang diperlukan semuanya harus tersedia.
3. Lantai maupun jalanan tidak terkotori oleh debu maupun minyak.
4. Pipa dan kabel listrik tidak boleh kotor dan tidak boleh terkena minyak.
5. Tidak boleh ada alat penerangan dan kipas angin yang kotor.
6. Pembuangan puntung rokok pada tempat yang aman dan dalam jangka waktu tertentu.
7. Tidak membiarkan sisa bahan kimia, sisa bahan dan tempat kosong disembarang tempat.
8. Mesin, fasilitas, peralatan air dan lain-lain dikontrol agar selalu dibersihkan dalam jangka waktu tertentu.
9. Kaleng kosong tersimpan pada tempat yang telah ditentukan dan teratur.
10. Tidak ada mesin, peralatan dan fasilitas yang rusak, kalau ada rencanakan untuk memperbaikinya.
11. Tidak ada tempat di lokasi kerja yang berdebu.
12. Dibuat pembagian kerja untuk membersihkan lingkungan kerja.
Adapun langkah-langkah yang harus diperhatikan antara lain:
1. Pembersihan harus dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin sebelum dan sesudah kegiatan pemilihan dan penataan. Agar pembersihan dapat dilakukan dalam waktu singkat, maka dari awal sarana dan prasarana kerja harus dilindungi dari sampah dan kotoran. Tempat-tempat yang sulit dibersihkan harus dikurangi hdan kerusakan-kerusakan kecil harus segera diperbaiki.
2. Kegiatan pembersihan diatas harus dilakukan secara sistematis
3. Obyek-obyek yang dibersihkan meliputi juga lantai, gang dan langit-langit
2.2.4. Seiketsu
Seiketsu-pemantapan-rawat adalah Membakukan dan mempertahankan kegiatan pemilahan, penataan, dan pembersihan agar selalu ringkas, rapi, dan bersih. Elemen keempat dari program 5-S adalah pemantapan (seiketsu). Pemantapan juga berarti stadarisasi, yaitu kegiatan yang melibatkan pembuatan sistem yang jelas untuk memelihara agar manfaat dari ketiga “S” sebelumnya dapat diperoleh.
Pemantapan melibatkan aktivitas pembuatan label-label petunjuk-petunjuk yang mudah dipahami, maka setiap orang ditempat kerja (pabrik, bengkel maupun kantor) akan mengerti apakah suatu mesin, misalnya berfungsi dengan baik atau tidak
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemantapan yaitu:
1. Tidak memakai pakaian yang tidak leluasa dalam pekerjaan.
2. Pakaian kerja, helmet, sepatu yang aman tidak dibiarkan kotor
3. Dispenser aqua, saluran pembuangan, tempat cuci tangan dan toilet selalu dalam keadaan bersih.
4. Meja, lemari, kursi, kipas angin dan air condisioner selalu dalam keadaan bersih.
5. Fasilitas darurat dilengkapi, obat-obatan dalam keadaan bersih.
6. Papan tulis dan papan pengumuman dalam keadaan bersih.
7. Tanda pengenal atau tanda petunjuk yang telah ditetapkan jelas terpasang.
8. Waktu mengeluarkan dokumen dan surat-surat secara darurat harus dalam keadaan mudah terjangkau dan tersusun jelas.
9. Lembar periksa bagi semua bagian yang memerlukan pemeriksaan rutin.
10. Tidak membawa barang pribadi ke dalam lokasi kerja.
2.2.5. Shitsuke
Shitsuke-rajin-pembiasaan adalah membiasakan untuk selalu mematuhi apa yang telah dibakukan . Istilah lain dari pembiasaan yaitu Sustain/ Disiplin.
Berbeda dengan ke 4-S lainnya, pembiasaan merupakan fenomena abstrak yang berkaitan erat dengan perasaan individu. Ditempat kerja, istilah pembiasaan (shitsuke) yang digunakan umumnya berarti menjaga kebersihan dan kerapian diri, dan mempunyai kebiasaan untuk mematuhi peraturan-peraturan tempat kerja. Oleh sebab itu, pembiasaan mempunyai peran yang sangat penting bagi terlaksananya ke-4-S lainnya. Tanpa pembiasaan, orang tidak dapat bersikap teguh untuk memlihara Pemilahan, Penataan, Pembersihan, dan Pemantapan.
Pada prinsipnya , karena pembiasaan ditujukan agar ke-4-S lainnya benar-benar diterapkan tanpa menjadi kendor, maka manfaat yang diberikan oleh pembiasaan adalah menjaga agar manfaat dari ke-4-S lainnya tetap terpelihara
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses pembiasan yaitu:
1. Pakaian kerja, topi, kartu pengenal dan emblem dipakai secara benar.
2. Penampilan rapi dan berkelakuan sopan.
3. Berusaha melakukan salam ucapan dengan baik.
4. Melaksanakan komunikasi pagi.
5. Alat-alat perlindungan yang ditetapkan dipakai dengan baik pada waktu bekerja.
6. Melakukan pekerjaan sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan.
7. Membedakan secara tegas antara tugas dinas dan pribadi.
8. Melakukan pemeriksaan secara teratur pada waktu yang telah ditetapkan.
9. Mesin-mesin dan peralatannya terurus dengan baik.
10. Tempat istirahat karyawan selalu dijaga kenyamanannya.
11. Merokok pada tempat yang telah ditentukan.
12. Asbak selalu dalam keadaan bersih.
13. Matikan lampu bila tidak digunakan.
14. Penerapan on the job training sesuai standar kerja ( SOS ).
15. Menciptakan latihan kerja dan penggunaan alat kerja.
Shitsuke selalu berpatokan pada peraturan:
1. Jadikan prosedur sebagai kebiasaan
2. Pelatihan yang benar terhadap seluruh karyawan
3. Buat perjanjian dari karyawan pabrik tentang perubahan dalam kebiasaan kerja
Langkah-langkah yang harus diterapkan untuk mencapai shitsuke yaitu:
1. Dasar-dasar pembiasan dimulai dari mentaati peraturan perusahaan, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di perusahaan. Supaya ditaati maka, peraturan kebiasaan serta hak perusahaan harus dipahami dulu melalui pelatihan
2. Kemudian sikap yang positif tersebut dilanjutkan dengan mentaati peraturan-peraturan untuk memelihara lingkungan kerja yang teratur dan menyenangkan
3. Mentaati sistem 4-SS untuk menyempurnakan tingkat produksi sebenarnya
4. Mentaati sistem produksi untuk meningkatkan produktivitas
Supaya ke-4-S dan pembiasaan dapat secara efisien berjalan, dapat dilakukan kegiatan-kegiatan untuk memotivasi karyawan. Contoh, beberapa perusahaan dapat menerapkan strategi label-merah, yaitu untuk tempat-tempat yang berantakan diberi label-label warna merah. Setelah tempat-tempat itu dibereskan, label merah diganti dengan label warna lain.
Strategi untuk memotivasi karyawan dapat pula dilakukan dengan pemberian sertifikat atau hadiah pada tempat kerja dengan hasil penyempurnaan terbaik. Dapat pula diadakan “Perang” antar unit kerja untuk memperebutkan piala penyempurnaan lingkungan kerja.

Gugus Kendali Mutu (GKM)

2.1 Definisi Gugus Kendali Mutu (GKM)
Gugus Kendali Mutu atau Quality Control Circle (QCC) adalah kelompok kecil yang terdiri dari 4 - 10 orang dari lingkup kerja yang sama, dengan sukarela melakukan kegiatan kontrol dengan improvement secara berkesinambungan dengan menggunakan teknik-teknik pengendalian mutu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan GKM
• Terdiri dari kelompok kecil (5 – 10 orang)
• Melakukan kontrol dengan improvement
• Dari lingkup kerja yang sama
• Berkesinambungan
• Partisipasi setiap anggota
• Pengembangan diri dan bersama
• Memakai teknik-teknik pengedalian mutu
• Merupakan bagian-bagian dari TQC
2.2 Tujuan GKM
1. Menggali dan mengembangkan kemampuan para staf perindividu
2. Menciptakan suasana kerja secara kekeluargaan yang harmonis
3. Meningkatkan mutu kerja dan hasil kerja
4. Meningkatkan rasa tanggung jawab seluruh staf untuk maju dan
berkembang.
5. Memberi kesempatan kepada staf –staf untuk maju dan berkembang
6. Menciptakan hubungan yang harmonis dan dinamis antara pimpinan
dengan para stafnya
7. Meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah
8. Menampung dan menyalurkan saran-saran positif dari seluruh staf dan
pegawai puskesmas.

2.3 Manfaat GKM
2.3.1 Bagi Staf puskesmas :
• Kesempatan untuk meningkatkan kemampuan pribadi.
• Kesempatan untuk menemukan dan memecahkan masalah yang belum
mendapat perhatian orang lain.
• Latihan menganalisis masalah dengan mempergunakan metode-metode statistik yang praktis.
• Lebih memahami teknik-teknik pengendalian kualitas.
• Mendorong peningkatan kreativitas.
2.3.2 Bagi puskesmas :
• Sarana untuk meningkatkan produktivitas.
• Kualitas hasil kerja pelayanan dan jasa menjadi lebih baik.
• Membangkitkan semangat dan mengembangkan rasa memiliki, bertanggung jawab dan selalu mawas diri dari seluruh karyawan puskesmas.
• Mengurangi kesalahan serta memperbaiki mutu.
Tiga ciri dalam melaksanakan GKM
• Partisipasi
Yaitu keterlibatan dari seluruh karyawan yang ada dari tingkat pimpinan paling atas sampai pada karyawan pelaksana dalam melalukan perbaikan mutu yang dilakukan secara berkerjasama. Jika partisipasi total sudah dilaksanakan, berarti komitmen sudah diwujudkan. Yang dimaksud komitmen adalah, adanya dukungan dan keterlibatan pimpinan dan karyawan yang konsisten
• Menggunakan statistic
Metode Statistik yang diperlukan sangat sederhana dan mudah dipelajari. Statistik menjadi penting dalam penerapan GKM karena setiap orang harus berbicara dengan fakta dan data sehingga mudah untuk bertanggung jawab dari setiap pengendalian, dengan tidak dengan perkiraan atau kemungkinan- kemungkinan. Ini dimaksudkan agar analisa semakin tajam dan memudahkan melalukan evaluasi.
• Pengendalian PDCA
Yang dimaksud pengendalian adalah memutar roda PDCA. Hasil yang baik adalah karena perencanaan yang baik. Tidak ada hasil yang baik tanpa perencanaan. Banyak perusahaan yang tetap bertahan ( survive ) dan mempunyai daya saing mulai dengan budaya PDCA ini
P = Plan , rencanakan.
D = Do , kerjakan sesuai rencana.
C = Check , periksa hasilnya.
A = Action, tindakan.
Didalam system manjemen TQC, masalah adalah sesuatu yang kita terima, kita proses dan kita hasilkan, yang masing- masing mempunyai tingkat ukuran, atau yang disebut mutu. Dengan demikian pengertian masalah adalah, mutu dari seluruh bidang kegiatan.
Penilaian terhadap mutu biasanya dilakukan hanya setelah orang melihat hasil akhir yang dicapai, sehingga perhatian yang dicurahkan untuk mencapai penilaian yang baik hanya pada kegiatan akhir. Akibatnya, tindakan yang dilakukan untuk mengendalikan masalah yang timbul adalah merupakan perbaikan, bukan pencegahan.
Tindakan pencegahan sebenarnya dapat dilakukan apabila kita mengenal masalah, yang didalam TQC dibagi dalam beberapa bidang, yang disebut thema mutu, yaitu;
 Mutu Pelayanan ( service )
 Mutu Biaya ( Cost )
 Mutu Keselamatan / Mutu Kesehatan ( Safety )
 Mutu Moral ( Morale )
2.4 Struktur Organisasi GKM
1. Fasilitator
- Memberi pelatihan kepada pimpinan dan anggota GKM
- Koordinator GKM
- Mediator antara GKM dengan pucuk pimpinan Perushaan
2. Pimpinan(Leader) GKM
- Memimpin secara aktif
- Mendorong para kariawan agar aktif
- mengelola jalannya kerja
- Bertanggung jawab terhadap kegiatan GKM
- Bersama fasilitator memberikan pelatihan kepada anggota GKM
3. Advisor
Orang yang dilibatkan sebagai narasumber karena keahliannya (expert)
4. Thema Leader
Pemimpin circle dengan tema yang sedang berjalan
5. Notulen
Dokumentasi setiap pertemuan
6. Anggota GKM
Adalah para staf puskesmas
2.5 Delapan Langkah Perbaikan Mutu
Plan 1. Mencari masalah
2. Menganalisa data
3. Mencari penyebab masalah
4. Membuat rencana perbaikan
5. Melaksanakan perbaikan
( Do ) 6. Memeriksa hasil perbaikan
(Check) 7. Standarisasi
(Action)8. Menetapkan rencana berikutnya
2.5.1 Mencari masalah
Amati semua masalah yang ada, yaitu segala sesuatu yang tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan Dari semua masalah ini, pilih satu yang paling besar dampaknya kepada keseluruhan proses.
1. Adakah sesuatu yang menimbulkan kesulitan bagi para pasien
2. Adakah sesuatu pekerjaan atau operasi yang sulit atau susah dikerjakan.
3. Adakah sesuatu yang membahayakan.
4. Adakah sesuatu yang sia-sia.
o Alat bantu yang mungkin digunakan:
1. Brainstrorming
2. Teknik Menemukan Masalah
3. Flowchart
4. Parameter
5. Parameter kritis
2.5.2 Menganalisa data
Berdasarkan masalah terpilih, kumpulakan data dan lakukan analisa.
o Alat bantu yang mungkin digunakan:
1. Lembar Data
2. Stratifikasi
3. Diagram Pareto
4. Grafik
5. Histogram
6. Diagram Tebar/Pencar
2.5.3 Mencari penyebab masalah
1. Rencana perbaikan harus SMART :
(Specific, Measureable, Achievable, Realistic, Timelines).
2. Tentukan target yang ingin dicapai.
3. Gunakan tabel 5W + 1H.
(Why, What, Where, When, How, dan Who).
4. Minta persetujuan atasan.
Beritahu bagian-bagian lain yang terkait.
5. Menemukan akar permasalahan/memahami permasalahan.
6. Memahami kondisi-kondisi yang tidak baik atau penyimpangan yang ada di tempat terjadinya masalah.
2.5.4 Analisa sebab akibat dan target
Buat analisa sebab akibat, dengan memasukkan segala sesuatu yang mungkin menjadi penyebab dari masalah yang telah terpilih dari segala sebab-sebab yang mungkin, pilih beberapa yang pengaruhnya besar kepada masalah yang dibahas.
1. Analisa faktor yang berkaitan dengan akar permasalahan.
2. Persempit penyebab dengan bertanya “mengapa” berulang-ulang (prinsip 5 why), tapi bila 5 why tidak terurai/buntu jangan diteruskan nanti akan mengada-ada.
3. Menguji logika, setelah selesai dibuat uji kembali hubungan sebab akibatnya.
4. Alat bantu yang mungkin digunakan:
a. Diagram Sebab Akibat (Diagram Ishikawa).
b. Lembar Data.
c. Grafik .
d. Brainstorming.
e. Diagram Alir.
2.5.5 Merencankan penanggulangan
1. Kumpulkan ide alternatif penanggulangan dari anggota circle.
2. Evaluasi alternatif penanggulangan.
3. Susun rencana pananggulangan dalam bentuk tabel, perjelas rencana dengan merinci 5W + 1H :
What = apa alternatif perbaikannya.
Why = mengapa itu dilakukan.
Where = dimana dilaksanakannya.
When = kapan akan dilaksanakan.
Who = siapa penanggung jawabnya.
How = bagaimana cara memperbaikinya.
4. Akan lebih baik bila ditambah How much = berapa biayanya.
2.5.6 Melaksanakan Penanggulangan
Yang perlu diperhatikan :
1. Lakukan penanggulangan sesuai rencana.
2. Setiap anggota circle harus berpatisipasi aktif.
3. Kumpulkan data dan cacat penyimpangan yang terjadi selama melaksanakan penanggulangan.
4. Bila ditengah pelaksanaan ada ide yang lebih baik dari yang sudah direncanakan, diskusikan pada waktu meeting.
2.5.7 Evaluasi hasil
Aktivitas yang dilakukan :
1. Periksa hasil dengan menggunakan tolak ukur yang sama.
2. Bandingkan hasil yang dicapai setelah perbaikan dengan hasil sebelum perbaikan.
3. Evaluasi pula efek-efek sampingan yang tidak diharapkan baik dalam bentuk kualitas, cost, delivery, safety, dll.
4. Buat ringkasan tentang keuntungan yang diperoleh dari hasil improvement baik keuntungan dalam bentuk uang ataupun bentuk lain.
5. Bila hasil penanggulangan kurang memuaskan, periksa kembali rencana kerjanya sudah baik atau belum?
2.5.8 Standarisasi dan rencana berikut
Hal-hal yang perlu dilakukan :
1. Kemukakan masalah-masalah yang masih ada. Masalah umumnya tidak dapat ditanggulangi dengan sempurna. Walaupun tidak tuntas, sebaiknya dibuat daftar apa aja yang sudah dikerjakan dengan baik dan apa saja yang belum baik
2. Buat rencana yang akan dilakukan dengan masalah yang masih tertinggal. Masalah yang terpenting dipilih sebagai tema untuk aktivitas selanjutnya.
3. Pikirkan dan ulas apa saja yang sudah berjalan dengan baik dan apa saja yang belum baik.
2.6 Tujuh alat yang digunakan dalam perbaikan mutu
2.6.1 Check Sheet
Check Sheet adalah merupakan alat yang mutlak diperlukan bagi mereka yang melaksanakan penelitian dan pengendalian kualitas atau kuantitas barang ataupun jasa. Karena dari data yang didapat / dikumpulkan dapat mengambil suatu gambaran, kesimpulan ataupun keputusan yang akurat.Tanpa mempunyai data membuat pengambilan kesimpulan / keputusan ataupun rencana tindakan hanya berdasarkan kira-kira saja, sehingga bukan suatu yang mustahil akhirnya kesimpulan / keputusan akan jauh dari yang diharapkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat Check Sheet, antara lain :
 Sasarannya harus jelas
 Keterangan yang diperlukan memenuhi sasaran
 Dapat diisi dengan mudah dan cepat
 Dapat disimpulkan dengan cepat

2.6.2 Stratifikasi
Yaitu mengkalisifikasikan data/masalah menjadi kelompok yang sejenis yang lebih kecil atau menjadi unsur-unsur tunggal dari data/masalah sehingga menjadi lebih jelas.
Fungsi stratifikasi adalah untuk mengetahui secara terperinci pengelompokan faktor-faktor yang akan mempengaruhi karakteristik mutu sehingga mudah di analisis.

2.6.3 Diagram Pareto
Diagram Pareto adalah kombinasi dua macam bentuk grafik yaitu grafik kolom dan grafik garis, berguna untuk :
 menunjukkan masalah utama/pokok masalah.
 menyatakan perbandingan masing-masing masalah terhadap keseluruhan.
 menunjukkan perbadingan masalah sebelum dan sesudah perbaikan.

2.6.4 Diagram Sebab Akibat (Fishbone Diagram)
Disebut juga “ Grafik Tulang Ikan”, yaitu diagram yang menunjukkan sebab akibat yang berguna untuk mencari atau menganalisa sebab - sebab timbulnya masalah sehingga memudahkan cara mengatasinya.
Penggunaan Analisis Sebab Akibat :
 Untuk mengenal penyebab yang penting.
 Untuk memahami semua akibat dan penyebab.
 Untuk membandingkan prosedur kerja.
 Untuk menemukan pemecahan yang tepat.
 Untuk memecahkan hal apa yang harus diilakukan.
 Untuk mengembangakan proses.
2.6.5 Histogram
Histogram adalah bentuk dari grafik kolom yang memperlihatkan distribusi yang diperoleh bila mana data dalam bentuk angka telah terkumpul. Meskipun suatu histogram dibuat berdasarkan contoh data, namun tujuannya adalah untuk memberikan saran mengenai kemungkinan distribusi keseluruhan data (populasi) yang contoh datanya diambil. Dalam Histogram, nilai dari peubah berkesinambungan digambarkan pada sumbu horizontal yang dibagi dalam kelas atau sel yang mempunyai ukuran sama. Biasanya ada satu kolom untuk tiap kelas dan tingginya kolom menggambarkan jumlah terjadinya nilai data dalam jarak yang digambarkan oleh kelas. Histogram ini dipakai untuk menentukan masalah dengan melihat bentuk dan sifat dispersi dan nilai rata-rata.

2.6.6 Diagram Tebar (Scatter Diagram)
Menggambarkan hubungan antara dua data yang dipetakan dalam suatu diagram. Diagram tebar digunakan sebagai alat penguji hubungan antara sebab dan akibat.
2.6.7 Grafik / Peta Kendali
Grafik adalah kumpulan data yang dinyatakan dalam bentuk gambar secara sistematis. Gunanya grafik :
a) Mempermudah, memperjelas serta mempercepat pembacaan data.
b) Dapat memaparkan data yang lalu dan data yang baru sekaligus.
c) Dapat melihat dengan jelas perbadingan dengan data lain yang berhubungan.
d) Untuk membantu / mempermudah manganalisa dalam pengambilan keputusan berbagai jenis grafik digunakan, yang pemakaiannya tergantung pada tujuan analisis.